Artikel lanjutan : Foto dan Video dengan Casio Exilim EX-V8

http://icon-icons.com/icons2/800/PNG/512/_whatsapp_icon-icons.com_65789.png  : 08111742529 - 08129123920
Dengan Yosef Setyawan

Exilim V8b

Sebelum membaca artikel di bawah ini Anda dapat membaca artikel sebelumnya di sini.

Rasanya produk unggulan dari Casio ini belum memiliki pesaing yang sepadan untuk saat ini. Canon seri prosumer seperti S2IS (dan adik-adiknya, S3IS, S5IS) memang memiliki fitur foto dan video yang lengkap dengan kemampuan merekam suara stereo. Namun ukurannya yang besar kadang merepotkan saat dipakai untuk mengambil video, belum lagi tidak tersedia pilihan resolusi widescreen dan kompresi MPEG-4. Jajaran kamera Panasonic Lumix terbaru juga kini memiliki fasilitas movie dengan resolusi widescreen namun sayangnya fitur lainnya masih belum bisa menyamai fitur EX-V8, seperti audio mono dan belum bisa zoom optikal saat merekam video. Sedangkan Pentax Z10 8 MP menjadi satu-satunya pesaing dengan spesifikasi mirip (7x internal zoom) namun tanpa dilengkapi fitur stabilizer.

Melalui Exilim EX-V8 ini Casio seolah hendak unjuk gigi ditengah ketatnya persaingan antar merk kamera khususnya kamera dengan kemampuan merekam movie. Apalagi mengingat Casio adalah pelopor kelahiran kamera digital di dunia pada tahun 1997 silam.

Update 31 Desember 2008 : Hands-on preview
Rekan kantor saya kemarin membeli Casio EX-V8 seharga 2,65 juta (setelah berdiskusi dengan saya mengenai kamera apa yang paling cocok untuknya) dan saya berkesempatan mencoba produk ini beberapa saat. Inilah kesimpulan yang saya buat setelah mencobanya :

  • kamera ini lebih berat dari yang saya duga
  • start-up lumayan cepat
  • zoom 7x internal bekerja dengan baik, kecepatan zoom linier dengan cara kita menggeser tuas zoom
  • pada ISO auto kamera cenderung berada di level aman ISO 200 (cahaya ruangan kantor dengan lampu neon)
  • noise : seperti kamera lain dengan sensor kecil, hindari ISO diatas 200 kecuali kondisi darurat
  • fitur video juga asik, bisa zoom saat merekam video
  • hanya tersedia 3 pilihan nilai aperture (pada mode A atau M)
  • face detection bekerja dengan baik
  • stabilizer kurang efektif untuk pemakain tele (cukup wajar karena untuk pemakaian tele sistem CCD shift memang kalah efektif dibanding lens shift, lagipula saat mencoba saya terlalu memaksakan stabilizer melampaui batas kemampuannya dengan memakai shutter 1/20 pada jarak fokal 266 mm !)
  • saya baru tahu : ada fasilitas RGB histogram (yang dioverlay dengan histogram biasa)
  • saya baru tahu : ada fitur AF tracking object (bila objek adalah anak kecil yang tidak mau diam, gunakan fitur AF ini)
  • flash agak lemah, untuk ruangan cukup luas dan ISO 50/ISO 100 cahaya flash kurang mampu menerangi ruangan (dengan ISO 200 problem solved)
  • hanya bisa charge baterai dan transfer foto saat kamera dipasang di cradle bawaannya
  • sayangnya saya belum bisa melihat hasil fotonya dalam layar komputer atau hasil cetaknya, namun kamera saku manapun umumnya menghasilkan gambar yang kurang baik saat diamati pada ukuran 100% di layar monitor (pixel peeping) namun sebaliknya memberi hasil baik saat hasil fotonya dicetak ukuran 4R.

Anda dapat membaca artikel sebelumnya di sini.

Artikel Terkait: