Pertumbuhan Pelanggan TV Berbayar | Kemudahan Cara Berlangganan

https://cdn2.iconfinder.com/data/icons/social-icons-33/128/WhatsApp-128.png  : 08111742529 - 08129123920
Dengan Yosef Setyawan

Cara Berlangganan Tv Berbayar

Cara Berlangganan Tv Berbayar

Tingkat penetrasi televisi berbayar (TV berbayar) di Indonesia dinilai masih rendah yakni sekitar 900.000 pelanggan atau baru mencapai 2% dari total 45 juta rumah tangga pada tahun lalu.

Penetrasi TV berbayar masih rendah, tetapi dengan inovasi para operator tingkat pertumbuhannya telah melewati angka 100%,” kata Direktur Utama PT Indonusa Telemedia (TelkomVision) Rahadi Arsyad di Jakarta, Senin.

Pada tahun 2008, TelkomVision mengklaim memiliki 215.000 pelanggan, dan pada akhir 2009 ditargetkan mencapai 427.000 pelanggan.

Angka pencapaian jumlah pelanggan itu menjadikan anak perusahaan PT Telkom ini, menjadi pemain nomor dua terbesar pada TV berbayar di tanah air.

Menurut Rahadi, mulai tingginya pertumbuhan pelanggan TV berbayar didorong kemudahan cara berlangganan dan fitur tontonan yang ditawarkan penyelenggara kepada pelanggan.

Ragam paket berlangganan secara prabayar atau berlangganan ditawarkan dengan harga lebih hemat misalnya memilih siaran stasiun TV yang akan ditonton konsumen.

Selain itu, sistem pembayaran berlangganan yang bervariasi seperti melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dengan menggandeng Bank BCA, dan PT Pos Indonesia membuat pelanggan lebih mudah melakukan pembayaran.

Ia menjelaskan, segmen pelanggan prabayar masih menjadi andalan perusahaan, karena berdasarkan survei bahwa rumah tangga di Indonesia hanya rela mengalokasikan 10 hingga 15% pendapatannya untuk berlangganan TV berbayar.

Sedangkan untuk menggarap segmen pelanggan di perkotaan TelkomVision akan mulai menawarkan perangkat parabola berukuran kecil.

Penataan frekuensi

Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI Joko Susilo menilai industri penyiaran di Indonesia belum mampu mengembangkan frekuensi yang ada secara maksimal.

“Aroma monopoli frekuensi dan pasar lebih terasa di industri penyiaran ketimbang semangat mengembangkan pasar,” ujar Joko.

Ia pun menilai bahwa Media Nusantara Citra (MNC) melakukan monopoli dengan kepemilikan saham di televisi siaran RCTI dan Global TV.

Sedangkan untuk frekuensi, lanjutnya, bahwa MNC dan anak usahanya Media Citra Indostar (MCI) menguasai frekuensi sebesar 150 MHz di spektrum 2,5 GHz untuk TV berbayar Indovision.

Untuk itu regulator harus menata ulang kembali industri penyiaran ini terutama masalah frekuensi.

“Janganlah sumber daya alam terbatas hanya dikuasai satu kelompok media besar saja. Ini bisa mengurangi peluang usaha yang lain untuk mengembangkannya,” tegas Joko.

Juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengungkapkan, pemerintah terus berupaya menata bisnis penyiaran di tanah air.

Ia menjelaskan, penataan antara lain kewajiban pembayaran Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) berdasarkan pita frekuensi yang diperuntukkan untuk satelit ke MCI.

Sumber : kapan lagi

Istilah pencarian yang masuk ke halaman ini, al :

Cara berlangganan tv kabel (62),cara menambah channel di tv toshiba (16),kemudahan setting tv kabel (12)

Artikel Terkait:

  • Tidak Ada Artikel Terkait