Kursi Tamu – Bagian Terpenting dari Sebuah Rumah

http://icon-icons.com/icons2/800/PNG/512/_whatsapp_icon-icons.com_65789.png  : 08111742529 - 08129123920
Dengan Yosef Setyawan

Ruang apakah yang berada di dalam rumah kita dan yang paling banyak

Kursi Tamu

Kursi Tamu

digunakan oleh orang lain? Ruang tamulah jawabnya. Ruang tamu termasuk kursi tamu adalah satu-satunya tempat yang ada di rumah tuan rumah, namun juga banyak digunakan oleh orang lain. Bila diibaratkan ruang tamu adalah ibarat wajah seseorang, maka ruang tamu adalah wajah dari sebuah rumah.

Perkembangan dan Fungsi Kursi

Mungkin zaman dulu, benda yang hadir di ruang tamu tersebut tidak sebagus sekarang. Cukup satu set yang terbuat dari kayu, tanpa busa, dan pegangan yang berukir, kursi pun siap dipakai. Namun kini, di saat teknologi makin berkembang, berpengaruh pula pada perkembangan hampir di semuanya. Mulai dari rumah, mobil, kendaraan, pakaian, aksesoris, makanan, hingga kursi tamu.

Namun, hal yang tak kalah penting dalam ruang tamu tersebut adalah kursi. Kursi tamu berperan sangat penting dalam etika bertamu dan etika melayani tamu. Bisa diibaratkan juga, kursi adalah kunci kedatangan tamu tersebut. Selain itu, barang tersebut adalah satu-satunya benda di rumah yang memang disediakan untuk orang lain, berbeda dengan ruang makan, tempat tidur, dapur, kamar mandi, yang semuanya itu bukan untuk umum. Tidak seperti satu set barang yang ada di ruang tamu tersebut.

Apalah jadinya ketika ada yang bertamu, namun tidak dipersilakan duduk oleh yang empunya rumah, boleh jadi penamu tersebut mempunyai banyak penafsiran di benaknya. Penafsiran tersebut bisa berupa berikut ini.

  • Apakah kehadirannya mengganggu tuan rumah, sehingga dia tidak dipersilakan untuk masuk dan duduk? Maka tamu yang datang berkunjung tersebut mungkin akan segera mengurungkan niatnya untuk bertamu dan segera memohon diri.
  • Apakah si empunya rumah sedang sibuk, sehingga tidak dapat menerima tamu di rumahnya? Akibat dari tindakan ini, sama seperti ketika penamu merasa dirinya mengganggu tuan rumah. Namun bedanya, penamu tidak mempunyai prasangka buruk dengan tuan rumah, bahkan merasa sungkan telah menganggu waktu tuan rumah.
  • Tamu tersebut bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah ada yang salah dengan dirinya, ataukah dirinya pernah berbuat salah, sehingga tidak diijinkan untuk masuk dan duduk dan hanya dibiarkan berdiri di luar?
  • Tamu yang datang berkunjung merasa kehadirannya sangat tidak diinginkan, jadi buat apa dipersilahkan masuk, apalagi ditanya, apa keperluannya hingga datang bertamu?

Banyak hal yang bisa terjadi dan bisa dipikirkan, hanya karena sang tamu tidak dipersilakan atau diijinkan untuk menikmati kursi tamu. Berbeda halnya ketika ada tamu yang datang ke rumah, kemudian dipersilakan masuk dan dipersilakan untuk duduk, pasti segalanya akan terasa lain. Tamu juga merasa kehadirannya diterima dengan baik, sehingga dapat mengutarakan tujuan kedatangannya bertamu.

Meskipun bernama sama, yakni kursi, namun setiap kursi mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Sebuah kursi tamu juga dapat mempererat persaudaraan. Hal itu karena dengan kursi yang disediakan di rumah, maka silaturahmi antarsesama manusia akan berjalan lancar. Dengan lancarnya komunikasinya tersebut, maka akan semakin mempererat persaudaraan, memperpanjang umur, dan dapat memudahkan rezeki, dengan dibukakannya berbagai pintu rejeki. Dengan begitu, peran manusia sebagai makluk sosial pun dapat tercapai.

Lain lagi jika sebuah kursi tamu berada di rumah seorang pejabat daerah. Tentu saja yang datang bertamu adalah orang-orang yang ingin menuntut keadilan, menuntut haknya, dan ingin berbagi kehidupan pahit yang mereka rasakan. Hal tersebut dilakakukan agar pemimpim mereka tahu tentang apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka cari. Kursi yang semacam ini akan menjadikan pejabat dan pemimpin tersebut disayangi oleh warganya dan selalu dicari-cari untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Lain ceritanya jika kursi tamu yang berada di rumah pejabat tersebut tidak pernah tersentuh oleh warganya, kecuali tersentuh oleh orang yang sama-sama pejabat dan pemimpin. Bisa jadi di luar pagar, ratusan bahkan ribuan orang memaki karena pemimpin mereka tidak bisa bersikap terbuka dan tergolong tertutup.

Lain ceritanya pula bila kursi ini hanya berbentuk kursi dengan sandaran, tanpa pegangan, dan berada di sebuah pesta pernihakan. Pasti, di kursi tamu tersebut, secara tidak langsung akan tertulis, datang, makan, kemudian berpamitan. Lain ceritanya pula, bila kursi tersebut terletak di rumah dokter. Maka akan banyak nyawa yang selamat karena tertolong dari penyakit yang sedang diderita.

Kursi Tamu – Menunjukkan Strata Seseorang

Meskipun banyak sebuah kursi, kursi bisa menunjukkan strata seseorang. Meskipun hanya mempunyai satu nama, yakni kursi tamu, benda ini bisa bermacam-macam bentuk. Di daerah pedesaan, tempat duduk yang satu ini dinamakan lincak, sehingga ketika bertamu maka tamu akan dipersilahkan duduk di lincak. Lincak sendiri adalah tempat duduk yang terbuat dari bambu yang dipotong kecil-kecil, kemudian dijadikan satu, sehingga potongan tersebut saling terjalin.

Di lain tempat, kursi bukan berupa berang yang bisa kita duduki, namun berupa lembaran anyaman yang disebut dengan tikar. Meski bentuk, warna, dan modelnya berbeda, namun fungsinya sama, yakni sebagai tempat duduk.

Beralih ke keluarga yang menengah ke atas, maka tempat duduk yang satu ini tidak berbahan jalinan bambu ataupun anyaman, namun kursi dengan ukiran-ukiran yang halus. Mereka mengeluarkan ratusan ribu, jutaan, puluhan, hingga ratusa juta, hanya untuk sebuah kursi tamu. Dengan harga kursi yang tergolong mahal, tentunya sang pemilik juga bukan orang sembarangan, sehingga ketika membeli pun tidak sembarang tempat duduk untuk tamu.

Semakin lama, jenis-jenis dan model kursi pun semakin beragam. Mulai jenis kursi bambu, kursi yang berbahan busa, kursi yang dipenuhi ukiran, hingga kursi yang terbuat dari akar tanaman. Tentu saja untuk yang satu ini tidak dapat dibeli oleh sembarangan orang karena harganya yang mahal. Tempat duduk yang satu ini tidak hanya bahannya yang susah ditemukan, bentuk, serta pembuatannya pun lebih sulit dan mempunyai nilai yang seni yang tinggi.

Meskipun begitu, secara garis besarnya, kursi tetap memilihi fungsi yang sama, yakni sebagai tempat untuk menerima tamu dan tempat dipersilakannya tamu untuk duduk. Entah di manapun tempatnya. Di tempat hajatan, di rumah si miskin, si kaya, di rumah pejabat, di rumah dokter, guru, dan di manapun, kursi tetap mempunyai fungsi yang sama.

Sampai kapanpun, benda yang satu ini akan terus dicari dan diperunakan, dan tidak akan mungkin terganti dengan benda lain. Bahkan di daerah-daerah tertentu pun, sudah menjadi sentra kerajinan ukir, salah satunya adalah Jepara. Hingga kini, Jepara masih terkenal dengan kota penghasil barang-barang ukiran, seperti hiasan dinding, almari, perabot rumah tangga, ranjang, pot bunga, hingga kursi tamu.

Kursi Tamu – Tamu Tak Diundang

Kursi tamu, tidak hanya untuk melayani tamu yang diudang, namun juga tamu yang tidak diudang. Dalam pengertian denotatif, tamu tidak diundang adalah tamu yang tiba-tiba saja datang bertamu karena suatu keperluan. Jenis tamu yang secamam ini tak jadi malasah bila datang bertamu. Hal itu karena meskipun tidak diundang, tuan rumah menerima kehadiran tamu tersebut.

Berbeda jika istilah tamu tak diudang dimaknai dengan konotatif, yang berarti kedatangan tamu tersebut tidak diharapkan atau tidak diperkenankan untuk hadir. Ketika orang tersebut hadir, belum tentu tuan rumah menerima dengan senang hati dan dengan pintu yang terbuka.

Meski mempunyai berbagai fungsi, peran, dan jenisnya, kursi sendiri mungkin saja tidak pernah mengerti apa yang membedakan dirinya dengan kursi-kursi yang lain. Karena yang ia tahu, dia ada untuk digunakan dan dinikmati oleh tamu, baik tamu itu tamu yang diundang maupun tidak diundang, yang kursi tamu tahu, dia sudah menjalankan tugasnya sebagai tempat duduk orang yang bertamu dengan baik.

Artikel Terkait: