Cek Kesehatan Reproduksi Pranikah, Perlukah?

http://icon-icons.com/icons2/800/PNG/512/_whatsapp_icon-icons.com_65789.png  : 08111742529 - 08129123920
Dengan Yosef Setyawan

kesehatan reproduksi wanita

kesehatan reproduksi wanita pranikah

Artikel ini akan membahas seputar kesiapan reproduksi sebelum menikah. Menikah. Siapa tak ingin? Hidup dengan pasangan yang dicintai dan mencintai. Bersama-sama membangun keluarga. Itu pasti jadi impian semua orang. Hanya saja, menikah perlu persiapan yang matang. Tak hanya mental dan finansial, tapi kesiapan reproduksi sebelum menikah (pranikah) pun penting diperhatikan.

Pentingnya Cek Kesehatan Reproduksi Pranikah

Kesiapan reproduksi yang dimaksud adalah kesehatan pada organ kelamin kedua pasangan. Baik yang laki-laki maupun perempuan, alat reproduksi mereka mampu menghasilkan keturunan berkualitas. Termasuk juga bebas dari penyakit menular atau warisan genetik yang buruk.

Caranya bagaimana? Kedua pasangan yang hendak menikah, melakukan pemeriksaan kesehatan alat reproduksi ke dokter atau rumah sakit terpercaya. Apakah ada masalah atau tidak berkaitan dengan kualitas dari alat reproduksi? Apakah ada atau tidak penyakit yang bisa jadi ancaman bagi (calon) anak-anak mereka nantinya? Dan mengetahui seberapa besar potensi mereka dalam menghasilkan keturunan berkualitas.

Jadi, cek kesehatan reproduksi pranikah bisa diartikan sebagai cara mengetahui kondisi kesehatan pasangan serta kecendurungan masa depan pernikahan, terutama berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi (fertilitas) dan genetika (keturunan). Cek kesehatan reproduksi pranikah juga dapat menambah kesiapan mental karena masing-masing mengetahui benar kondisi kesehatan calon pasangan hidupnya.

Memang, memeriksakan kesehatan reproduksi pranikah belum lazim di Indonesia. Banyak pasangan yang hendak menikah lebih disibukkan dengan persiapan lainnya. Seperti mengurus acara pernikahan, kapan dan di mana resepsi pernikahan akan dilaksanakan, membuat dan menyebar undangan pernikahan, hingga ke mana bulan madu hendak dilakukan. Tapi, segera ubah pandangan tersebut. Pasangan yang hendak menikah disarankan memasukkan jadwal pemeriksaan kesehatan reproduksi sebagai salah satu hal yang harus dilakukan. Dijamin, tidak akan merepotkan dan menyita banyak waktu.

Kapan idealnya cek kesehatan reproduksi pranikah dilakukan? Dari berbagai referensi kesehatan, disebutkan bahwa waktu ideal cek kesehatan reproduksi adalah enam bulan sebelum pernikahan dilangsungkan. Mengapa harus ada jeda selama itu? Ada jeda selama enam bulan berfungsi ketika pada saat pengecekan ditemui ada masalah, maka cukup waktu bagi pengobatan tanpa harus menunda waktu pernikahan karena alasan kesehatan. Tetapi, enam bulan hanyalah waktu ideal. Di luar dari waktu itu, pengecekan kesehatan reproduksi pranikah boleh-boleh saja.

Jenis-jenis Cek Kesehatan Reproduksi Pranikah

Apa saja cek kesehatan reproduksi pranikah yang biasanya dilakukan? Berikut ini jenis-jenis cek kesehatan reproduksi pranikah.

1. Cek Infeksi Saluran Reproduksi/Infeksi Menular Seksual (ISR/IMS)

Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti sifilis, gonorrhea, Human Immunodeficiency Virus (HIV), serta penyakit hepatitis B, dapat segera diketahui dan dilakukan pengobatan jika pasangan melakukan cek kesehatan reproduksi pranikah. PMS termasuk jenis penyakit menular dan berbahaya. Kecuali HIV, berbagai jenis PMS dapat 100 persen disembuhkan bila segera ditemukan gejala awalnya dan langsung diobati.

Khusus perempuan, PMS amat rentan terjadi pada mereka. Hal ini karena bentuk dan fungsi alat reproduksi perempuan yang seolah jadi wadah ’menampung’ virus pada saat kontak seksual terjadi. Berbeda dengan laki-laki, kemungkinan mereka terkena PMS lebih kecil. Dengan melakukan cek kesehatan reproduksi pranikah, pasangan yang hendak menikah dapat melakukan antisipasi sejak dini. Contoh, jika seorang laki-laki mengidap hepatitis B, maka pasangannya dapat diberi imunisasi hepatitis B agar kebal terhadap penyakit tersebut.

2. Cek Rhesus yang Bersilangan

Ini mungkin fakta medis yang hanya sedikit diketahui. Fakta mengenai golongan darah baru, yakni rhesus positif dan negatif. Rhesus positif umumnya dimiliki orang Asia dan negatif pada orang Eropa, Amerika, serta Australia. Rhesus yang terdapat pada sel darah merah (erythrocyt), jika ditemukan pada pasangan yang mengecek kesehatan reproduksinya bersifat bersilangan (rhesus positif dengan rhesus negatif), maka bisa mempengaruhi kualitas keturunan bahkan kematian pada janin.

Kehamilan (kesehatan reproduksi) akan menjadi masalah jika seorang ibu yang punya rhesus negatif dan suaminya rhesus positif. Bayi pertama yang mereka lahirkan punya kemungkinan rhesus positif atau negatif. Bila rhesus negatif, itu tidak jadi masalah. Tapi bila rhesus positif, maka mengundang masalah pada kehamilan berikutnya. Apabila calon bayi (janin) kedua punya rhesus positif, maka kehamilan ini jadi berbahaya. Antibodi antirhesus dari ibu akan memasuki sel darah merah (erythrocyt) janin dan mengakibatkan cacat atau kematian.

3. Cek Penyakit Keturunan

Setiap individu pasti membawa potensi penyakit keturunan. Jika pasangan yang mengecek kesehatan reproduksinya, mereka akan mengetahui apa saja potensi penyakit keturunan yang mungkin diderita anak-anaknya.

Contoh, albino adalah penyakit keturunan yang diwariskan oleh kedua orangtua yang dua-duanya membawa sifat (carrier) albino. Jika kedua pasangan carrier tersebut menikah dan punya anak, dapat dipastikan anak mereka akan menderita albino. Begitu juga dengan penyakit lainnya yang disebabkan warisan genetik dari kedua orangtua. Keuntungan dilakukannya cek kesehatan reproduksi pranikah adalah kedua pasangan bisa mengantisipasi sejak dini sehingga tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

4. Cek Tingkat Kesuburan (Fertilitas)

Salah satu fasilitas yang didapatkan ketika melakukan cek kesehatan reproduksi pranikah adalah konseling pranikah. Terutama bagi mereka yang ingin segera mendapatkan momongan, tanpa menunda-nundanya lagi. Konseling ini membantu pasangan untuk secepat mungkin mendapatkan anak, termasuk persiapan-persiapan yang hendaknya dilakukan. Baik itu persiapan secara sosial-ekonomi, mental atau kesiapan psikis pasangan untuk menjadi orangtua, hingga tingkat kesuburan (fertilitas) dari kedua pasangan.

Khusus masalah fertilitas, diperlukan serangkaian tes berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi kedua pasangan. Untuk laki-laki, apakah organ reproduksinya berfungsi optimal? Tidak mengalami masalah seksual seperti disfungsi ereksi atau ejakulasi dini? Atau apakah sel-sel spermanya dalam jumlah dan kualitas mencukupi untuk membuahi sel telur? Semua pertanyaan ini dapat terjawab tuntas dengan serangkaian tes kesehatan reproduksi.

Untuk perempuan, tes kesehatan alat reproduksinya lebih kompleks lagi. Seperti adanya tes pap smear (khusus bagi perempuan yang aktif secara seksual), pemeriksaan rahim, dan kekebalan terhadap penyakit seperti rubella dan toksoplasma. Pemeriksaan kualitas sel telur hingga penggunaan alat USG (Ultra Sonografi) untuk melihat apakah ada kista, mioma, tumor, atau keputihan yang dapat menghambat kehamilan.

Cek Kesehatan Reproduksi Pranikah Tak Harus Ditakuti

Salah satu tujuan pernikahan adalah menghasilkan keturunan yang sehat, baik fisik maupun mental. Itu semua perlu dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahan dilangsungkan. Semakin dini kesehatan reproduksi pasangan yang hendak menikah diketahui, semakin besar pula kemungkinan memperoleh keturunan berkualitas.

Namun, bagi sebagian orang melakukan cek kesehatan reproduksi pranikah mendatangkan kecemasan. Mereka cemas bila ternyata hasil dari tes menunjukkan hal-hal yang tidak diinginkan. Katakanlah, ada salah satu atau kedua pasangan terbukti tidak sehat sistem reproduksinya. Atau mengidap penyakit tertentu dan bisa mewariskan penyakit tersebut pada anaknya.

Perasaan cemas ini wajar saja. Asalkan tidak disikapi secara berlebihan. Yang perlu diingat, melakukan cek kesehatan reproduksi pranikah adalah langkah preventif (pencegahan) terhadap segala kemungkinan yang dapat menganggu tujuan pernikahan (menghasilkan keturunan berkualitas). Jadi, kalau hasil dari tes kesehatan pranikah menginformasikan sesuatu yang tak beres, maka bisa segera dicari solusi penyelesaiannya.

Tentu saja, solusinya tidak harus sampai membatalkan pernikahan yang hendak dilakukan. Contoh, jika ditemukan pasangan yang hendak menikah tersebut mengidap PMS, maka segera diobati. Setelah sembuh, barulah pernikahan itu dilakukan. Atau dalam kasus lebih kompleks, seperti pasangan mengidap penyakit keturunan dan bisa membahayakan anaknya nanti, maka dicari solusi yang bijak.

Jika pernikahan tetap dilangsungkan, maka pasangan tersebut sudah harus siap dengan kemungkinan kondisi kesehatan anaknya. Intinya, melakukan cek kesehatan reproduksi pranikah berarti mempersiapkan segala kemungkinan agar tujuan pernikahan ideal dapat terwujud.

Alat Reproduksi Wanita dan Perawatannya

Pada dasarnya alat reproduksi pada wanita lebih rentan terserang penyakit dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini disebabkan alat reproduksi pada wanita bentuknya lebih ‘terbuka’, sehingga memudahkan bakteri atau virus masuk ke dalam organ tersebut. Sayangnya, masih banyak wanita di Indonesia yang mengabaikan kesehatan alat reproduksi mereka.

Penyebabnya antara lain karena ketidaktahuan atau ketidakpedulian. Memang, di tengah kesibukan beraktivitas sehari-hari, mengakibatkan kaum perempuan lengah untuk merawat Ms.‘V’-nya. Keluhan kecil pada bagian vital tesebut masih dianggap sepele. Padahal, kalau dibiarkan akan mengakibatkan timbulnya penyakit baru yang lebih berbahaya pada organ reproduksi.

Bagian-bagian Alat Reproduksi Wanita

Alat reproduksi pada wanita terdiri dari dua bagian, yaitu bagian luar atau genetalia externa dan bagian dalam atau genetalia interna.

Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar

Alat reproduksi wanita bagian luar terdiri dari:

1. Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar – Mons Veneris

Mons veneris adalah bagian luar dari alat reproduksi wanita, yang kulit atasnya ditutupi bulu-bulu halus dan bagian dalamnya terdapat jaringan lemak menutupi tulang kemaluan (simphisis). Bulu-bulu halus pada mons veneris berfungsi sebagai pelindung dari benturan-benturan keras dan meminimalisir infeksi dari luar.

2. Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar – Labia Mayora atau Bibir Kemaluan

Labia mayora merupakan bagian dari alat reproduksi wanita bagian luar yang terdiri dari bagian sebelah kiri dan kanan, berbentuk lonjong, semakin ke bawah semakin menyatu dan mengecil. Bagian dalam pada bibir kemaluan tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak. Karena mengandung banyak ujung syaraf, maka bagian dalam bibir kemaluan menjadi daerah yang sangat peka, sehingga sensitif terhadap hubungan seks.

3. Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar – Labio Minora atau Bibir Bagian Dalam Kemaluan

Labia minora merupakan bagian alat reproduksi wanita bagian luar yang berbentuk lipatan kecil pada labia mayora. Bagian depan dari labia minora mengelilingi klitoris. Kedua bagian labia ini mempunyai pembuluh darah, akibatnya akan membesar jika keinginan seks meningkat.

4. Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar – Klitoris

Bagian dari alat reproduksi wanita bagian luar ini terletak di ujung bagian atas antara labia minora dan labia mayora. Bentuk klitoris identik dengan penis pada organ kelamin pria. Klitoris adalah bagian yang paling sensitif pada organ kelamin wanita, karena banyak dialiri pembuluh darah dan urat syaraf.

5. Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar – Vestibulum

Letak vestibulum diapit oleh labia mayora pada bagian kiri dan kanannya, klitoris pada bagian atas, dan pertemuan labia minora di bagian bawahnya. Pada alat reproduksi ini, terdapat muara vagina atau liang senggama, saluran kencing, dan tempat diproduksinya cairan kental atau disebut kelenjar bartholini dan skene yang keluar jika terjadi rangsangan pada saat akan berhubungan badan.

6. Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar – Himen atau Selaput Dara

Sebagian lubang pada vagina luar, ditutupi oleh selaput tipis yang disebut himen atau selaput dara. Secara normal, himen akan berlubang sehingga menjadi pintu keluarnya darah menstruasi. Bagi wanita yang tidak mempunyai introitus himenalis, maka darah menstruasinya tidak bisa keluar. Himen atau selaput darah akan robek serta mengeluarkan darah pada saat pertama kali berhubungan seks. Bentuk alat reproduksi ini akan berubah menjadi tonjolan kecil, pada pasca melahirkan.

Alat Reproduksi Wanita Bagian Dalam

Sedangkan, alat reproduksi wanita pada bagian dalam terdiri dari:

1. Alat Reproduksi Wanita Bagian Dalam – Vagina atau Saluran Senggama

Vagina merupakan alat reproduksi berupa saluran otot selaput atau muskulo-membranasea, yang menghubungkan rahim dengan dunia luar. Bagian otot vagina tersebut dapat dikendalikan dan dilatih, karena berasal dari otot dubur. Vagina atau saluran senggama mempunyai beberapa peran penting, antara lain: sebagai jalan lahir, sarana untuk berhubungan badan, saluran untuk mengeluarkan lendir atau darah menstruasi.

2. Alat Reproduksi Wanita Bagian Dalam – Uterus atau Rahim

Bentuk alat reproduksi wanita bagian dalam ini seperti buah pir atau alpukat, beratnya sekitar 30 gr, dan terletak di panggul kecil di antara rektum (bagian usus sebelum dubur), dan di depan kandung kemih. Karena rahim adalah tempat tumbuh dan berkembangnya janin, maka pada bagian bawahnya disangga dengan kuat oleh ligamen.

Selain berfungsi sebagai jalan lahir. Rahim juga mempunyai kemampuan untuk mendorong jalan lahir. Untuk menghindari pendarahan, otot rahim dengan sendirinya menutupi pembuluh darah, segera setelah proses persalinan selesai. Dalam kurun waktu kurang lebih 42 hari (atau dalam Islam disebut masa nifas), ukuran alat reproduksi wanita bagian dalam ini akan mengecil kembali seperti semula.

3. Alat Reproduksi Wanita Bagian Dalam – Tuba Falopii

Alat reproduksi wanita bagian dalam ini berbentuk dua buah saluran yang sangat halus, menghubungkan ovarium dengan rahim. Panjang tuba falopii berkisar antara 7 sampai 14 cm. Tuba falopii mempunyai bagian yang lebar, agar dapat menangkap telur (ovum) pada saat pelepasan telur atau ovulasi. Tuba falopii sangat rentan terkena infeksi, karena merupakan bagian yang paling sensitif. Wanita yang mandul, biasanya disebabkan oleh infeksi pada Tuba falopiinya.

4. Alat Reproduksi Wanita Bagian Dalam – Ovarium atau Indung Telur

Di antara panggul dan rahim terdapat organ reproduksi bernama ovarium atau indung telur. Alat reproduksi ini merupakan sumber hormonal pada wanita, terutama untuk menstruasi. Setiap bulan, secara bergantian kiri dan kanan, indung telur mengeluarkan telur (ovum). Pada saat inilah wanita mengalami “masa subur”. Semakin bertambah usia, produksi telur akan semakin berkurang bahkan hilang. Usia saat wanita tidak lagi menghasilkan sel telur disebut masa menopause.

5. Alat Reproduksi Wanita Bagian Dalam – Parametrium atau Penyangga Rahim

Alat reproduksi wanita bagian dalam ini berbentuk lipatan dengan berbagai penebalan, berfungsi menghubungkan rahim dengan tulang panggul. Sebagian besar alat reproduksi wanita berada di tulang panggul. Bentuk dan ukurannya berbeda pada setiap wanita, sehingga memengaruhi kemudahan saat proses persalinan.

Kebiasaan Baik untuk Menjaga Alat Reproduksi Wanita

Bila saat ini Anda membiarkan gangguan kecil yang terjadi pada alat reproduksi, sebaiknya hentikan sekarang juga. Jika keluhan ringan pada organ intim dibiarkan, lama kelamaan akan mengakibatkan infeksi pada vagina, atau bahkan penyakit menular seksual (PMS).

Untuk mencegah sekecil apapun gangguan pada alat reproduksi, lakukanlah beberapa kebiasaan yang baik di bawah ini:

  • Segera mandi dan ganti pakaian dalam Anda, sesudah melakukan kegiatan olahraga. Kondisi badan yang berkeringat dan kemudian mengering, akan mempermudah masuknya bakteri ke dalam organ reproduksi Anda. Jika Anda sulit melakukan kebiasaan ini atau tidak sempat, gunakan celana dalam berbahan katun atau panty liner. Bahan katun cepat menyerap keringat, sehingga daerah vagina Anda akan tetap kering. Ganti panty liner secara rutin, agar organ reproduksi Anda terbebas dari bakteri.
  • Segera berkonsultasi dengan dokter ahli, jika mengalami gangguan pada organ reproduksi Anda. Biasanya kita suka menebak-nebak setiap infeksi yang terjadi pada organ intim, untuk kemudian membeli obat tanpa resep dokter. Menurut dokter ahli kandungan, rasa gatal pada alat reproduksi bisa jadi merupakan gejala herpes atau alergi pada kulit. Sedangkan rasa panas pada saat buang air seni, kemungkinan dipicu oleh bakteri atau penyakit seksual menular lainnya. Pengobatan tanpa diagnosis dari dokter ahli kandungan, justru akan membuang-buang waktu serta memperparah infeksi sesungguhnya.
  • Segera buang air kecil, jangan sekali-kali ditunda. Menahan buang air kecil berarti membiarkan bakteri yang terdapat pada urin untuk berkembang biak. Semakin lama Anda menahan buang air kecil, semakin banyak bakteri yang diproduksi, sehingga mengakibatkan infeksi pada kandung kemih. Menahan BAK saat berhubungan seks pun dilarang. Pada saat kantong kemih penuh, saluran kencing terbuka, sehingga mudah terserang bakteri dari vagina atau penis pasangan. Di saat itulah terjadi infeksi saluran kemih atau ISK.
  • Hindari memakai jins ketat. Jins yang ketat akan menahan keringat kemudian melepaskannya, sehingga memudahkan bakteri berkembang.
  • Gunakan sabun khusus untuk Ms. V Anda. Menggunakan sabun yang wangi, dapat mengakibatkan iritasi pada kulit kemaluan, karena kandungan ph-nya tidak sesuai.
  • Hindari air yang terlalu panas. Air yang panas mengakibatkan efek kering dan gatal, juga berkurangnya kandungan minyak pada kulit kelamin.

Istilah pencarian yang masuk ke halaman ini, al :

cek tagihan aeon online (127),bagian handycam dan fungsinya (58),cara mengecek angsuran aeon (48),alat alat keprawatan dan penjelasanya (25),cek tagihan aeon (25),fungsi neopuff (23),pengertian neopuff (22),cek angsuran aeon (21),cara cek tagihan aeon (10),cara mengetahui kode pelanggan aeon (2),cara mengetahui sisa cicilan aeon (1),cara mengetahui sisa tagihan aeon (1),cara cek sisa tagihan aeon (1),cara mengetahui angsuran aeon (1),cek tagihan aeon onlen (1),cara cek sisa cicilan a (1),cara cek sisa angsuran aeon (1),handycam bagian2 (1),cara cek sisa cicilan aeon (1)

Artikel Terkait: