Khitan – Kewajiban dan Kesehatan

http://icon-icons.com/icons2/800/PNG/512/_whatsapp_icon-icons.com_65789.png  : 08111742529 - 08129123920
Dengan Yosef Setyawan

khitan bagi laki laki & perempuan

khitan bagi laki laki

Agama Islam mewajibkan pemeluknya untuk melakukan khitan. Di Indonesia, khitan sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat yang biasa disebut dengan sunat. Khitan dirayakan dengan meriah dan menjadi peristiwa penting bagi orangtua dan anak laki-lakinya.

Khitan berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘memotong’. Pengertian memotong di sini adalah memotong kulit yang menutupi alat kelamin laki-laki. Khitan diwajibkan bagi laki-laki muslim sebagai proses menyucikan diri dari najis. Jika seorang laki-laki hingga usia tertentu tidak melaksanakan khitan, maka belum sah ibadah sholatnya.

Oleh karena itu, khitan bagi laki-laki menjadi acuan kedewasaan selain datangnya masa aqil baligh. Hal ini dikarenakan setelah melaksanakan kewajiban khitan, maka seseorang sudah dapat membersihkan dirinya dari najis atau kotoran yang membatalkan sholat sehingga ibadah sholatnya telah memasuki tahap pencatatan amalan.

Dalam agama Islam, perintah khitan sudah datang sejak masa Nabi Ibrahim. Ketika melakukan kewajiban khitan, Nabi Ibrahim sudah berusia 80 tahun. Sejak saat itulah, pemeluk agama Islam wajib melakukan khitan.

Meski telah dilakukan sejak masa Nabi Ibrahim, kewajiban khitan masih menjadi perdebatan para ulama. Dahulu, perintah khitan dilaksanakan tanpa diketahui secara pasti manfaat medis yang diperoleh dari khitan. Para muslimin melakukan khitan atas dasar melaksanakan perintah Allah Swt. Khitan menjadi perintah yang cukup menakutkan karena pada masa lalu belum ada teknologi kedokteran yang memadai seperti saat ini.

Pada masa Nabi Ibrahim, beliau melakukan khitan dengan menggunakan kapak. Hal ini menyebabkan banyak ketakutan sehingga kewajiban khitan menjadi perdebatan. Beberapa ulama ada yang berpendapat bahwa khitan baik untuk dilakukan namun tidak wajib apabila menimbulkan kekhawatiran terhadap diri sendiri atau berbahaya.

Meski hukum khitan berada dalam perdebatan, namun sejak masa Nabi Muhammad saw, khitan telah banyak dilakukan oleh para pemeluk agama Islam. Bahkan, khitan menjadi penanda jumlah korban perang yang berasal dari kaum muslimin.

Sejak dahulu, khitan menjadi pembeda kaum muslim dengan pemeluk agama lain karena agama Islam dikenal menyerukan kewajiban khitan ini. Seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya orang yang melakukan khitan, lahirlah penelitian-penelitian seputar khitan khususnya ditinjau dari sisi medis atau kesehatan.

Penelitian-penelitian tersebut kemudian memberikan hasil yang positif bagi manfaat khitan. Khitan bermanfaat bagi terbuangnya kotoran-kotoran yang tersisa pada alat kelamin laki-laki. Apabila kulit yang menutupi ujung alat kelamin laki-laki tidak dipotong atau dibuang, maka akan menimpulkan penimbunan kotoran-kotoran atau racun dari air seni. Dibuangnya kulit penutup ini juga menurunkan tingkat infeksi atau penyakit menular bagi alat kelamin.

Usia Tepat untuk Melaksanakan Khitan

Setelah hasil-hasil penelitian mengenai khitan menunjukkan manfaat yang baik bagi kesehatan, maka khitan tidak lagi hanya dilakukan oleh pemeluk agama Islam. Penganut agama lain di berbagai negara mulai mempertimbangkan diri untuk melakukan khitan. Bahkan, beberapa rumah sakit telah menawarkan proses khitan bagi bayi laki-laki yang lahir.

Di Indonesia, pelaksanaan khitan tidak selalu langsung dilakukan bagi bayi laki-laki yang lahir. Khitan dilakukan terhadap anak laki-laki yang sudah memiliki kesiapan mental. Hal ini dilakukan karena khitan tidak hanya berdampak bagi kesehatan fisik, tetapi mental. Setelah dikhitan, seseorang secara agama telah memasuki tahap pencatatan amalan dan sudah wajib melaksanakan seluruh perintah-perintah Allah Swt. Dengan demikian, setiap anak laki-laki memiliki usia kesiapan yang berbeda-beda dalam melakukan khitan.

Kesiapan usia dalam melakukan khitan selain ditinjau dari sisi mental, tetap harus ditinjau dari sisi kesehatan. Karena meskipun seorang anak telah siap melakukan khitan secara mental, namun saat ini telah diketahui bahwa alat kelamin laki-laki memerlukan waktu dalam pertumbuhannya.

Dalam proses pertumbuhan tersebut, alat kelamin laki-laki sebaiknya jangan dikhitan terlebih dahulu karena akan memengaruhi pertumbuhan ukuran alat kelamin dan kualitas kesehatannya. Oleh karena itu, meskipun saat ini pelaksanaan khitan sangat mudah, termasuk dengan banyaknya jumlah klinik-klinik khitan dan banyaknya kegiatan khitanan massal sebagai bagian dari kegiatan sosial, pelaksanaan khitan perlu memerhatikan usia yang mencakup, kesiapan mental dan fisik seseorang.

Saat ini, tidak sedikit orang yang melakukan khitan beberapa hari atau beberapa bulan dari kelahiran anak laki-laki. Keputusan seperti ini perlu dipertimbangkan kembali demi kebaikan anak laki-laki yang akan dikhitan.

Usia rata-rata anak laki-laki yang melakukan khitan berkisar antara 7-10 tahun. Pada usia ini ,bila ditinjau dari sisi agama, seorang anak laki-laki telah mulai memasuki masa aqil baligh yang akan mulai mewajibkannya melakukan ibadah-ibadah perintah Allah Swt seperti sholat dan puasa.

Secara umum, pada usia ini pertumbuhan kelamin seorang anak laki-laki dianggap telah cukup siap untuk melakukan khitan. Oleh karena itu, usia yang dianggap tepat untuk melakukan khitan adalah pada kisaran usia 7-10 tahun.

Selain usia, dalam melaksanakan khitan perlu diperhatikan juga tenaga medis dan peralatan yang digunakan. Saat ini telah berkembang peralatan media untuk khitan yang meminimalisasi rasa sakit dan kemungkinan pendarahan atau infeksi.

Klinik-klinik penyedia layanan khitan juga berjumlah cukup banyak dengan pelayanan yang beragam. Memilih klinik yang baik dan aman juga perlu diperhatikan saat akan melaksanakan khitan sehingga khitan yang dilakukan bermanfaat bagi kesehatan sekaligus menjalankan kewajiban agama.

Pelanggaran Hak dalam Khitan Perempuan

Pelaksanaan khitan bagi perempuan menurut agama Islam tidak diwajibkan selayaknya laki-laki. Beberapa ulama menyebutkan khitan bagi perempuan sebagai sunnah. Artinya, dilaksanakan itu baik namun jika tidak dilaksanakan juga tidak mengapa.

Di Indonesia, pelaksanaan khitan bagi perempuan telah dilakukan sejak lama seiring dengan khitan bagi laki-laki. Kementerian Kesehatan Indonesia juga memiliki aturan tersendiri mengenai pelaksanaan khitan bagi perempuan.

Namun, sejak tahun 2007 lalu, peraturan Kementerian Kesehatan Indonesia mengenai pelaksanaan khitan perempuan telah dilarang pelaksanaannya. Pelarangan ini mengacu pada hasil Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan Organisasi Kesehatan  Dunia pada 1994 yang menghasilkan keputusan pelarangan khitan bagi perempuan karena berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi perempuan.

Di Indonesia, pelarangan Kementerian Kesehatan tersebut tidak sejalan dengan pendapat Majelis Ulama Indonesia yang menolak pelarangan khitan bagi perempuan. Berdasarkan dalil agama, khitan pada perempuan merupakan perintah untuk memuliakan perempuan.

Mengenai peraturan khitan perempuan, Kementerian Kesehatan Indonesia setelah menanggapi fatwa Majelis Ulama Indonesia kemudian membatalkan pelarangan khitan bagi perempuan dan pada 2010 melakukan pemberlakukan peraturan mengenai khitan perempuan yang mengatur prosedur, standar profesi, dan pelayanan khitan perempuan yang disesuaikan dengan kaidah agama. Hal ini bertujuan untuk menghindari kasus-kasus buruk yang menimpa perempuan-perempuan setelah dikhitan.

Namun, pada 2011 peraturan ini mendapat perhatian dari organisasi Amnesty Internasional yang kemudian meminta Indonesia untuk menghentikan praktik khitan bagi perempuan. Himbauan pelarangan khitan perempuan ini didasarkan pada dampak buruk bagi kesehatan yang menimpa perempuan-perempuan yang dikhitan.

Pelaksanaan khitan bagi perempuan dianggap melanggar hak perempuan jika didasarkan pada pertimbangan menghalau hasrat seksualitas perempuan. Karena setiap perempuan berhak memiliki hasrat seksualitasnya serta organ reproduksi yang sehat. Selain itu, perempuan yang tidak melaksanakan khitan tidak memiliki keburukan berbeda dengan alat kelamin laki-laki yang akan menimbun racun.

Negara-negara Arab seperti Mesir, Libanon, dan Turki sudah tidak lagi memberlakukan khitan bagi perempuan. Jika demikian, apabila pengetahuan secara medis telah diketahui keburukan pelaksanaan khitan bagi perempuan, maka meski telah berlangsung lama di tengah masyarakat, pelaksanaan khitan bagi perempuan ini sebaiknya tidak lagi dilakukan. Khitan wajib bagi laki-laki dan bermanfaat bagi kesehatan, namun khitan bagi kesehatan perempuan sebaiknya tidak dilakukan.

Istilah pencarian yang masuk ke halaman ini, al :

############################################# (10)

Artikel Terkait:

  • Tidak Ada Artikel Terkait