Penis Besar – Antara Mitos dan Mak Erot

http://icon-icons.com/icons2/800/PNG/512/_whatsapp_icon-icons.com_65789.png  : 08111742529 - 08129123920
Dengan Yosef Setyawan

Penis Besar

Penis Besar & Mak Erot

Penis besar. Jika mendengar kata itu, orang cenderung menganggap membicarakan hal yang sangat tabu dan membuat malu. Sehingga umumnya orangtua memberi nama alias untuk alat reproduksi pria ini, saat memperkenalkan anggota tubuh pada anak.

Disadari atau tidak, pemahaman ini akan sampai pada anak dan mereka tangkap dengan baik. Akibatnya, anak akan berpendapat sama dan menganggap bahwa membicarakan penis adalah hal yang tabu dan menjijikkan.

Sebenarnya, apa itu penis? Penis adalah nama lain untuk alat kelamin laki-laki. Mengapa kita harus berpikiran “jorok” ketika membahas tentang penis, apalagi jika berkaitan dengan penis besar? Mengapa harus menghubungkannya dengan segala hal yang berbau seksual?

Padahal hubungan seksual hanyalah masalah lain dari penis. Membicarakan tentang alat reproduksi ini seharusnya bisa sama ringannya, seperti ketika kita membicarakan tentang mata, tulang, tengkorak, kulit, hidung, atau jantung.

Setiap manusia memiliki sistem reproduksi. Pada lelaki, alat vital ini menjadi tempat untuk membentuk sel sperma yang ketika bersatu dengan sel telur wanita akan menghasilkan janin. Kelak, janin ini akan menjadi manusia baru.

Tentu hanya sel sperma dan sel telur yang sehat saja yang bisa membentuk janin nantinya. Ketika terstimulasi dengan hubungan seks, sperma akan terdorong masuk ke sebuah tabung. Tabung ini disebut dengan vas deferens yang akan bercampur dengan cairan seminal untuk membentuk semen.

Semen ini akan dikeluarkan melalui uretra yang terdapat di alat vital ini, sekaligus menjadi tempat keluarnya urine. Cairan semen atau sperma ini terlihat seperti beradu dengan ukuran yang sangat kecil. Sel sperma dibentuk di dalam testis.

Ketika seorang lelaki mencapai usia 15 tahun, testis mereka akan memproduksi sekitar 200 juta sperma baru. Testis juga memproduksi testosteron, hormon seks pria. Hormon ini memicu pertumbuhan tulang dan otot. Juga bertanggung jawab terhadap pertumbuhan rambut dan perubahan suara.

Penis mengalami pertumbuhan sesuai dengan usia anak. Jika diketahui kapan pertumbuhan tinggi badan seseorang akan berhenti, tidak demikian dengan penis.

Penelitian yang melibatkan ribuan remaja menunjukkan tidak adanya perbedaan ukuran dengan jelas antara penis remaja berusia 17 dengan 19 tahun. Jadi, kesimpulannya, penis mengalami penghentian perkembangan di usia 17 tahun atau kurang.

Penis Besar dan Mak Erot

Ukuran alat vital ini selalu dihubungkan dengan Mak Erot, terutama yang merujuk pada upaya untuk menambah ukurannya. Entah kenapa sepertinya belakangan ini kaum lelaki menjadi terobsesi dengan penis besar.

Orang awam beranggapan, ukurannya berhubungan dengan kualitas hubungan seksual. Ukurannya juga dianggap menjadi tanda bahwa seseorang memang “jantan”. Sehingga orang pun melakukan upaya untuk memuat ukurannya bertambah.

Mak Erot dianggap sebagai salah satu jalan keluarnya. Begitu populernya Mak Erot sehingga pasiennya pun berdatangan tanpa henti, bahkan tidak sedikit di antaranya yang berasal dari luar negeri.

Salah satu film Indonesia bahkan mengambil namanya dan dijadikan sebagai pelengkap judul. Ingat dengan film “XL, Antara Aku, Kau, dan Mak Erot?” Dari judulnya kita tentu bisa membayangkan permasalahan apa yang dibahas di film ini.

Nama Mak Erot sepertinya sangat populer. Pasien yang datang ke tempat praktiknya cukup banyak. Bahkan Mak Erot melayani panggilan yang mengharuskannya datang ke hotel atau tempat lain secara khusus.

Hal ini menunjukkan kepada kita, masyarakat Indonesia banyak yang tidak puas dengan ukuran penisnya. Mak Erot yang berasal dari Sukabumi dan sudah meninggal ini dipercaya memiliki kemampuan yang mumpuni dalam hal pembesaran penis.

Konon, cara yang digunakan tidak sulit. Calon pasien bahkan bisa memilih ukuran penis yang dikehendaki. Mereka diharuskan memilih ukuran lemang yang sudah dipersiapkan.

Lemang adalah makanan yang terbuat dari ketan dan santan yang sudah dimasak dan dimasukkan ke dalam bambu. Ukuran lemang ini cukup variatif. Setelahnya, sang pasien dipersilakan untuk berbaring, Mak Erot pun memulai pengobatan dengan cara memijat, tanpa bantuan alat apapun.

Pemijatan biasanya berlangsung hingga dua puluh menit. Lalu pasien akan diberi air putih yang sudah diberi mantra dan diharuskan menghabiskan lemang pilihannya tadi. Kemudian pasien diberi minyak khusus yang harus dioleskan di penisnya secara teratur.

Pasien juga dilarang berhubungan intim selama beberapa lama. Tidak jelas apakah memang berhasil atau tidak, yang jelas Mak Erot memiliki banyak pengekor. Meski sudah meninggal dunia, konon usahanya diteruskan oleh anak dan cucunya.

Penis Besar dan Mitos Dibaliknya

Apakah penis bisa diperbesar ukurannya? Secara medis, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang mustahil. Karena begitu memasuki usia akil baligh, maka berhenti pulalah perkembangannya.

Pembesarannya hanya bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak alami. Misalnya saja dengan bedah plastik. Meski nyaris mustahil,  nyatanya banyak yang merasa tidak puas dengan ukuran alat kelaminnya dan mengambil jalan pintas.

Selain meminta bantuan pada Mak Erot dan bedah plastik yang mahal, ada juga yang melakukan suntik silikon di alat kelaminnya. Padahal langkah seperti ini dianggap sangat berbahaya karena silikon langsung disuntikkan begitu saja.

Dan ada kemungkinan menjadi penyebab terjadinya kerusakan fungsi seksual secara permanen atau gangguan kesehatan. Risikonya tinggi, bukan?

Ada banyak mitos yang beredar seputar penis. Yang paling populer adalah penis besar akan membuat hubungan seks menjadi lebih memuaskan. Tapi, benarkah demikian?

Menurut para ahli medis, tidak ada korelasi antara ukuran penis besar dengan kualitas hubungan seksual. Ukuran penis besar tidak berhubungan dengan persentase kenikmatan atau kepuasan dalam berhubungan intim.

Mengenali area sensitif terhadap rangsang jauh lebih baik. Bahkan tidak sedikit wanita yang mengeluhkan penis yang terlalu panjang justru mengakibatkan rasa sakit ketika berhubungan intim.

Berhubungan intim tidak sekadar menyangkut penis besar dan vagina. Hubungan seksual adalah salah satu cara mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada pasangan dengan cara yang paling intim.

Keperkasaan pria tidak ada hubungannya dengan ukuran penisnya. Keperkasaan pria lebih menitikberatkan pada penilaian terhadap kasih sayang, perhatian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap pasangan dan keluarga.

Hal itulah yang jauh lebih penting ketimbang ukurannya yang besar belaka. Hubungan seks itu penting, tapi bukan segala-galanya. Selain itu, ada juga mitos yang berpendapat bahwa semakin besar ukuran alat kelamin pria, maka semakin perkasa pula dirinya.

Sekali lagi, ini pandangan yang keliru. Meski memiliki ukuran yang besar, namun ternyata mengalami masalah ejakulasi dini atau disfungsi ereksi, bukankah itu lebih mengganggu? Masalah seperti ini yang harus dihindari karena akan membawa akibat buruk pada kualitas hubungan seksual dengan pasangan.

Memperbesar ukurannya tidak perlu menjadi prioritas dalam hidup. Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk manusia. Ukurannya selalu proporsional dengan ukuran tinggi seseorang.

Jadi, ukurannya berbanding lurus dengan ukuran dan tinggi tubuh seseorang. Penis besar bukanlah sesuatu yang perlu dipusingkan. Lebih baik meningkatkan kualitas hidup dengan banyak cara. Seks hanyalah meliputi sebagian kecil dari kebutuhan manusia.

Artikel Terkait:

  • Tidak Ada Artikel Terkait